Kategori
“Pena lebih tajam dari bedah,” kata Fadmi Sustiwi, Jurnalis Senior Kedaulatan Rakyat.
Jumat, 2 Desember 2011 – Workshop menulis berperspektif perempuan bersama jurnalis senior Kedaulatan Rakyat, Fadmi Sustiwi, dan Direktur Institut Perempuan, R. Valentina Sagala, diadakan selama dua hari (1-2 Desember 2011) di Ruang Seminar Lt.3 Perpustakaan UAJY. Workshop ini diikuti oleh 14 mahasiswa UAJY yang merasa prihatin akan penulisan dalam media yang tidak adil terhadap perempuan. Workshop ini difasilitatori oleh Dekan Fakultas ISIP, Lukas S. Ispandriarno.
“Transfer informasi dan supaya lebih banyak orang yang mengetahui tentang tulisan kita merupakan alasan utama menulis di media,” kata Fadmi Sustiwi sebagai pembicara di hari pertama setelah workshop dimulai dengan review atas isu-isu tentang perempuan oleh Bapak Lukas.“Transfer informasi ini harus dimulai dengan hal-hal aktual bagaimanapun keadaan hati kita. Bahkan keadaan kita saat itu malah dapat memacu kita menulis guna menumpahkan isi hati mengenai ketidakadilan terhadap perempuan. Keluarkan perasaan marah, kesal itu dengan menuliskannya sehingga tulisan tersebut akhirnya mempunyai jiwa,” kata Ibu Fadmi lagi setelah ada seorang peserta yang menyatakan mengenai mood sebagai kendala menulis.
“Ingin menulis dengan bagus harus dimulai dari membaca.“ Kalimat ini terus diulang oleh Valentina Sagala dimana ia percaya bahwa seseorang yang ingin menulis bagus tidak mungkin didapatkan dengan kursus menulis sehari. “Menulis harus dilatih terus-menerus diiringi dengan membaca. Tujuannya adalah menambah kosakata baru dan gaya menulis yang runtut”, kata Valentina Sagala lagi.
Workshop ini berjalan sangat seru dan mengasyikkan. Semua peserta saling belajar dan saling memotivasi. Mereview tulisan, membuatnya kembali, mengomentari tulisan diri sendiri dan orang lain, berdiskusi menjadi hal yang seru terlihat dari antusiasme para peserta yang rajin bertanya dan menanggapi.
Menulis pada awalnya sangat tidak menarik bila tidak terbiasa tetapi bila telah terbiasa, menulis menjadi sesuatu yang rutin. Menulis dari perspektif perempuan juga bukanlah hal yang mudah baik bagi para perempuan sendiri ataupun laki-laki. Tetapi dengan adanya workshop ini diharapkan dimulai dari para peserta akan banyak muncul tulisan yang berperspektif perempuan serta tidak bias gender.







Arsip
Rss






