header-int

Fakultas Hukum UAJY Gelar Seminar Nasional “Menyongsong Berlakunya UU No 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak”

08 April 2013
Share Facebook Share

Selasa (26/3) Fakultas Hukum UAJY bekerja sama dengan FPKK (Forum Perlindungan Korban Kekerasan) DIY, LP3NI (Lembaga Penguatan dan Pemberdayaan Pendidikan Nasional), dan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional dengan topik “Menyongsong Berlakunya Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak”. Acara tersebut berlangsung di Ruang Auditorium Kampus III (St. Bonaventura), UAJY.

Adapun para pembicara dalam seminar nasional tersebut adalah : Dr. Y. Sari Murti Widiyastuti, SH. M.Hum. (Dosen FH UAJY); Dr. Al. Wisnubroto, SH. M.Hum.(Dosen FH UAJY); Dr. Lilik Mulyadi, SH. MH. (Dosen Pascasarjana Univ. Jayabaya, Jakarta) dan AKBP Beja, WTP (POLDA DIY). Sebagai keynote speaker adalah GKR Hemas, yang dalam hal ini diwakili oleh asisten beliau yakni Dr. Faraz Umaya.
Pokok-pokok pikiran yang disampaikan oleh para pembicara dalam seminar nasional tersebut adalah sebagai berikut :
Sebagai salah satu negara yang telah meratifikasi konvensi hak anak, melalui Keppres No. 36 Tahun 1990, maka dalam berbagai kebijakan perlindungan anak Indonesia terikat pada nilai; prinsip; dan ketentuan yang terdapat dalam konvensi tersebut. Hal ini menjadi penting mengingat masih banyak terjadi berbagai kelemahan dan penyimpangan dalam penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, sehingga menimbulkan trauma dan stigma yang membekas dalam diri anak.

Untuk menjawab berbagai tantangan dalam memberikan perlindungan pada anak, khususnya anak yang berhadapan dengan hukum, maka telah diundangkan UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Dibanding dengan UU yang lama (Undang-Undang Pengadilan Anak), Undang-Undang Sistem Peradilan Peradilan Anak (UUSPPA) merumuskan beberapa kemajuan, diantaranya adalah :
1. Batas minimum usia anak untuk dapat dipidana (atau ditahan), yaitu 14 tahun;
2. Dipakainya pendekatan Keadilan Restoratif dalam penyelesaian perkara anak;
3. Adanya kualifikasi penegak hukum dalam penanganan perkara anak;
4. Jenis pidana dan tindakan;
5. Larangan untuk mempublikasikan identitas anak yang berhadapan dengan hukum.

Meski merumuskan beberapa hal baru, UUSPPA juga menuai kritik dalam beberapa hal, antara lain :
1. Masih dipakainya kata “pidana’ dalam judul dan ruang lingkup UUSPPA. Hal itu bertentangan dengan kebutuhan anak yang berhadapan dengan hukum, yaitu konseling, non represif demi kesejahteraan anak;
2. Batas usia anak untuk diajukan dalam proses peradilan pidana (12 tahun). Dalam batas usia tertentu anak, secara psikologis, akan belum siap menghadapi proses peradilan pidana;
3. Ketentuan tentang diversi, yaitu :
a. Adanya pembatasan diversi untuk perkara yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 tahun. Hal ini dapat dianggap kontradiktif dengan semangat/spirit undang-undang untuk menghindarkan anak dari pemidanaan;
b. Berpotensi melanggar hak anak yang berhadapan dengan hukum (mengaku bersalah sebagai penentu untuk diversi) yang berkonsekuensi logis ketentuan tentang diversi bertentangan dengan asas praduga tak bersalah;
c. Kewajiban diversi berpotensi melanggar hak anak atas peradilan yang adil;
d. Tidak sesuainya realitas sosial pengadilan dan politik hukum dengan diversi yang berakibat kontraproduktif karena implementasinya hanya akan menghasilkan keadilan prosedural;
e. Penerapan kewajiban diversi dalam proses pidana bertentangan dengan Pasal 24 ayat (1) UUD 1945, karena membuka celah kekuasaan di luar kehakiman untuk menyelesaikan perkara pidana
4. Masih dipakainya upaya paksa, yaitu penahanan atau pidana penjara dalam penyelesaian perkara anak;
5. Pelaksanaan UUSPPA memungkinkan terjadinya kriminalisasi terhadap penegak hukum.

Seminar nasional ini dihadiri kurang lebih 300 peserta dari berbagai kalangan, antara lain Hakim, Jaksa, Pengacara, Polisi, Akademisi, Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

UAJY Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) adalah lembaga pendidikan tinggi swasta yang didirikan oleh kaum awam Katolik dan dikelola oleh Yayasan Slamet Rijadi - Yogyakarta, di bawah lindungan Santo Albertus Magnus. Universitas Atma Jaya Yogyakarta lahir pada tanggal 27 September 1965, dengan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berdimensi serta berorientasi global.
© 2018 Universitas Atma Jaya Yogyakarta Follow UAJY: Facebook Twitter Linked Youtube