header-int

Kuliah Umum, “Beriman yang Bersahabat Di Tengah Radikalisasi Agama”

13 November 2017
Share Facebook Share

Kohesi sosial bangsa Indonesia saat ini sedang dalam tekanan besar yang ditandai dengan munculnya potensi konflik antarkelompok. Patut cemas kiranya, apalagi jika koflik antarkelompok itu melibatkan unsur yang amat sensitif, yaitu agama, sehingga dapat mengoyak rasa saling percaya antarsesama anak bangsa. Lahirnya gerakan “kembali ke fundamen” mudah bermuara pada penolakan ekstrim terhadap pluralitas. Cirinya anti-keragaman dan kebhinekaan, menolak demokrasi sebab demokrasi persis mensyaratkan pilihan bebas dan kemajemukan, literalis/harfiah dalam memahami kitab suci, tidak peduli dengan keramatnya nilai kehidupan, serta menolak kebebasan suara hati.  Fundamentalis jenis ini menetapkan corak hidup sekian abad silam sebagai kemurnian seragam untuk semua orang bukan karena alasan teologis, melainkan karena  kekerdilan memahami arti fundamen. Maka terjadi kebuntuan historis, yakni gambaran kemurnian (puritas) yang diproyeksikan ke masa silam menabrak realitas campur aduk (hibrid) dunia kontemporer (hibriditas). Mirisnya, cara-cara tersebut sering dilakukan dengan cara-cara radikal.

Prihartin dengan kondisi tersebut, Unit Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Universitas Atma Jaya Yogyakarta (MPK UAJY) menyelenggarakan kuliah umum yang mengusung topik, “Beriman yang Bersahabat Di Tengah Radikalisasi Agama” dengan narasumber Dr. Inayah Rochmaniyah, MA (UIN), Dr. Agus Tridiyatno, MA (UAJY) dengan moderator Dra. Ch. Suryanti, M.Hum. Acara diselenggarakan di Ruang Konferensi Fisip UAJY (11/11).

Menurut Inayah, agama menjadi negatif ketika yang dikembangkan adalah teologi yang meneguhkan wajah di luar dirinya sebagai sesat, kafir, dan munafik. Di titik ini teologi yang semestinya dijangkarkan di atas haluan “rahmatan lil alamin” jadi menyemburkan aroma penuh kebencian, kesumat, dan dendam. Tak ada lagi kesempatan bercermin karena sejak awal yang diteguhkan adalah keyakinan dirinya sebagai surga dan keyakinan orang lain tak lebih adalah neraka. Surga yang ditanamkan dalam isi kepala itu diimani akan semakin lapang manakala keyakinan orang lain yang dipandang neraka itu terus menerus “ditertibkan” lewat teror, ancaman, pedang dan kekerasan. “Bukan hanya mereka yang beragama lain yang dianggap sebagai kafir, bahkan sesama muslim pun mereka kafirkan karena tidak sejalan dengan aliran mereka.”, demikain keprihatinan Innayah. Untuk itu Innayah menekankan untuk selalu berpikir kritis terhadap fenomena yang mengemuka tersebut.

Sedangkan menurut Dr. Agus Tridiyatno, MA., bahwa kampus menjadi lingkungan yang menjanjikan bagi pengusung paham radikal. Mereka membidik para mahasiswa yang secara psikologis masih dalam proses pencarian jati diri. Dalam banyak kasus, pegiat paham radikal membidik mahasiswa yang “polos”, artinya yang tidak memiliki latar belakang keagamaan kuat. Kepolosan mahasiswa ini dimanfaatkan oleh pengusung paham radikal dengan memberikan doktrinasi keagamaan yang monolitik, kaku, dan jauh dari kontekstualisasi. Pada proses inilah radikalisme ditanamkan dan disebarluaskan melalui sistem kaderisasi yang ketat dan cenderung tertutup.

Karenanya, upaya yang efektif untuk mencegah kampus dari radikalisasi adalah dengan melakukan strategi yang berlawan dari dua kesimpulan penting di atas. Pertama, kampus harus memberikan fasilitas belajar keagamaan yang proporsional kepada mahasiswa, terutama untuk menampung mereka yang sesungguhnya memiliki semangat belajar agama cukup tinggi Kedua, kampus secara berkala harus mengupayakan penyebaran ajaran keagamaan dengan suasana terbuka dan menekankan moderatisme. Selain mampu membendung radikalisasi dan mencegah bibit teroris, kedua upaya itu bisa menjadi strategi jitu untuk membangun moralitas mahasiswa yang seimbang dengan keunggulannya secara akademik. “Cara yang paling efektif dan efisien adalah dengan cara mengikuti UKM sesuai dengan minat dan bakat mahasiswa, karena melalui kegiatan ini energi yang melimpah dari mahasiswa dapat disalurkan dengan baik sehingga tidak terjerumus ke dalam gerakan radikalisasi agama.”

 

UAJY Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) adalah lembaga pendidikan tinggi swasta yang didirikan oleh kaum awam Katolik dan dikelola oleh Yayasan Slamet Rijadi - Yogyakarta, di bawah lindungan Santo Albertus Magnus. Universitas Atma Jaya Yogyakarta lahir pada tanggal 27 September 1965, dengan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berdimensi serta berorientasi global.
© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta Follow UAJY: Facebook Twitter Linked Youtube