header-int

Kuliah Umum, “Pluralisme Sebagai Kekayaan dan Kekuatan Kehidupan Bersama”

23 September 2014
Share Facebook Share

Unit Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Universitas Atma Jaya Yogyakarta (MPK UAJY) menyelenggarakan kuliah umum dengan topik, “Pluralisme Sebagai Kekayaan dan Kekuatan Kehidupan Bersama” di Auditorium Kampus III, Fakultas Ekonomi UAJY, Gedung Bonaventura, Babarsari. Sebagai narasumber dalam acara ini adalah KH. Abdul Muhaimin, Romo Suyatno, Pr., dan Budi Raharjo, MA. Bertindak sebagai moderator adalah Y. Hartono, SH., M.Hum, Dosen Fakultas Hukum UAJY.

Banyak Negara-negara di dunia ini “menderita” akibat pluralism. Bisa diambil contoh beberapa Negara seperti Srilanka, yang hingga kini masih didera pertikaian etnis Sinhala dan Tamil. Perseteruan dua suku besar di Srilanka ini  seolah-olah tiada akhir. Begitu juga dengan di Filipina yang mengalami konflik serius akibat perbedaan agama yang mencuat sebagai kasus di wilayah Moro. Thailand juga memiliki separatis Islam di wilayah Pattani yang hendak memisahkan diri. Etnis Catalan dan Besque di spanyol, Eropa secara laten juga rentan dilanda pertikaian.

Untuk mengatasi kemajemukan ini, secara historis founding fathers Indonesia merumuskan Pancasila. Lima kalimat singkat dalam Pancasila digunakan sebagai Konsensus dasar yang diyakini merupakan common will dari subkultur-subkultur yang hidup di masyarakat majemuk Indonesia. Jika kemerdekaan oleh Soekarno diibaratkan sebagai pintu gerbang yang memberi kemungkinan seluas-luasnya untuk mewujudkan suatu masyarakat multikultur baru yang lebih adil dan sejahtera, maka kebangkitan nasional merupakan titik awal menuju pintu gerbang multikulturalisme itu.

Enam puluh tahun lebih sudah pintu gerbang itu terbuka, namun “buah” yang dituai bukan kesatuan dan persatuan warga bangsa yang berlimpah kekayaan alamnya, tetapi sentimen suku, agama, ras dan antargolongan yang kian mengental. Kerusuhan demi kerusuhan berlatar SARA berlangsung dan terus berlangsung dengan ekskalasi yang mencengangkan. Primordialisme memenjarakan pluralisme dalam gheto pemahaman yang sempit dan paradigma berpikir yang picik. Di tengah kemelut seperti itu, mampukah nasionalisme dan pluralisme menjadi roh yang mempersatukan dan modal yang kuat membangun bangsa ini?

Kuliah umum ini membongkar paradigma pluralism melalui kearifan-kearifan lokal, misalnya ketika terjadi bencana alam. Bagaimanakah kekuatan-kekuatan pluralism itu yang pada akhirnya justru kian mengukuhkan semangat persatuan dan memunculkan kesadaran kemanusiaan yang baru, sebuah kemanusiaan yang tiada bersekat primordialisme, agama dan sentiment-sentimen lainnya. Para narasumber mengupas persoalan yang krusial dengan kepiawaiannya masing-masing dan meramu menjadi sebuah diskusi yang hidup. (One 22/9)

UAJY Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) adalah lembaga pendidikan tinggi swasta yang didirikan oleh kaum awam Katolik dan dikelola oleh Yayasan Slamet Rijadi - Yogyakarta, di bawah lindungan Santo Albertus Magnus. Universitas Atma Jaya Yogyakarta lahir pada tanggal 27 September 1965, dengan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berdimensi serta berorientasi global.
© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta Follow UAJY: Facebook Twitter Linked Youtube