header-int

Menikmati Atmosfir Pulau Bungin di Gelar Karya Fotografi UAJY

08 June 2017
Share Facebook Share

Atma Jaya Photography Club (APC) bersama Rotaract Club of Jogja Merapi mengadakan gelar karya fotografi dan 1000 buku untuk Bungin di Loop Station, 3-4 Juni 2017 pukul 10.00 – 21.00 WIB.

Dengan mengusung konsep ‘Bajo Bungin’ pameris menyuguhkan keunikan-keunikan serta fenomena yang terdapat di Pulau Bungin melalui karya foto dan video dokumenter.

Ketika memasuki ruangan pameran, pengunjung disambut dengan lagu-lagu daerah Sumbawa. Tidak hanya itu, suara desiran ombak serta keriuhan penduduk Pulau Bungin juga diperdengarkan agar pengunjung dapat merasakan atmosfir kehidupan di pulau terpadat di dunia itu.

“Lagu-lagu daerah Sumbawa, suara ombak sampai suara masyarakat di sana bakal diputar agar pengunjung dapat merasakan betul atmosfir pulau Bungin,” ujar koordinator gelar karya Randi Eka Sanjaya, Minggu (03/06/2017) pagi.

Randi mengungkapkan, dalam gelar karya fotografi kali ini pameris mengusung tiga sub tema yang berbeda namun masih berkesinambungan. Ketiga sub tema tersebut ialah Suku Bajo, reklamasi dan pulau terpadat.

Sub tema Suku Bajo menjelaskan mengenai budaya-budaya yang ada di suku tersebut, termasuk upacara adat dan kegiatan tradisional lainnya. Salah satu yang berhasil dipersembahkan melalui karya fotografi ialah nyorong, yaitu sejenis kegiatan lamaran yang dibalut dengan upacara adat serta iringan musik rebana dan seruling.

Nyorong itu semacam lamaran yang ceweknya pakai baju adat, kegiatannya ada musik rebana dan seruling, ada acara seserahan dan setiap orang yang datang memberikan uang kepada calon mempelai,” imbuhnya.

Sub tema reklamasi menerangkan mengenai seberapa luas Pulau Bungin saat ini. Dahulu, pulau ini hanya memiliki luas wilayah 3 hektar. Namun akibat penduduk yang terus bertambah, pulau ini pun harus direklamasi dan kini luasnya mencapai 12 hektar.

“Di reklamasi kita bakal jelasin seberapa besar pulau Bungin, dari yang dulunya 3 hektar sampai sekarang jadi 12 hektar,” tegasnya.

Sedangkan sub tema pulau terpadat menggambarkan mengenai kepadatan yang berada di pulau Bungin, seperti rumah-rumah yang saling berhimpitan, keriuhan penduduk, serta lahan penghijauan semakin sedikit hingga dampak sampah yang menggunung di samping rumah warga. Bahkan, akibat gunungan sampah itu kini hewan-hewan di Pulau Bungin yang dulunya makan rumput sudah menjadi makan sampah.

“Di sini kami menjelaskan mengenai bagaimana rumah-rumah dan penduduk yang semakin lama semakin banyak. Selain itu kami juga menyajikan bagaimana sampah yang menggunung di samping rumah warga dan dimakan hewan yang sejatinya merupakan pemakan rumput,” tutur Randi.

Randi mengutarakan, dalam gelar karya fotografi  ini pameris tidak hanya menyajikan 107 karya foto dan video dokumenter namun juga mengajak pengunjung untuk belajar bersama mengenai seni dan budaya Sumbawa.

“Di gelar karya ini kami juga mengajak pengunjung untuk sama-sama belajar mengenai seni dan budaya yang ada di Sumbawa, jadi kita sama-sama tahu setidaknya mengetahui apa itu Suku Bajo,” tuturnya.

Selain gelar karya fotografi, Atma Jaya Photography Club (APC) bersama Rotaract Club of Jogja Merapi juga mengadakan pengumpulan 1000 buku untuk anak pulau Bungin. Randi menjelaskan, kegiatan kampanye ini dilangsungkan atas dasar keprihatinan setelah melihat perpustakaan yang berada di pulau tersebut. Menurut Randi, terdapat 425 anak laki-laki dan 446 anak perempuan dengan rentang usia 0-15 tahun namun hanya terdapat satu perpustakaan. Nantinya, buku-buku yang terkumpul akan langsung dikirimkan ke pulau Bungin dan akan dibangunkan perpustakaan baru di dekat museum oleh karang taruna setempat.

“Kami bekerjasama dengan karang taruna setempat untuk membangun perpustakaan baru di dekat museum. Harapannya nanti setelah perpustakaan ini jadi literasi membaca anak pulau Bungin menjadi tinggi karena selama ini hanya ada satu perpustakaan dan itu pun sulit diakses,”pungkasnya.*

 20170603_195752

UAJY Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) adalah lembaga pendidikan tinggi swasta yang didirikan oleh kaum awam Katolik dan dikelola oleh Yayasan Slamet Rijadi - Yogyakarta, di bawah lindungan Santo Albertus Magnus. Universitas Atma Jaya Yogyakarta lahir pada tanggal 27 September 1965, dengan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berdimensi serta berorientasi global.
© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta Follow UAJY: Facebook Twitter Linked Youtube