header-int

MIK UAJY Gelar Diskusi “Media Digital dan Agama di Masa Pandemi”

13 July 2020
Share Facebook Share

Pandemi COVID-19 membuat semua orang terkejut, termasuk komunitas agama. Meskipun pandemi ini terjadi pada masa di mana media sudah berkembang, namun apakah komunitas agama sudah memanfaatkan media yang ada dengan maksimal. Berangkat dari fenomena tersebut, Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) mengadakan diskusi daring bertajuk “Media Digital dan Agama di Masa Pandemi” melalui aplikasi Zoom pada Rabu (08/07/2020).

Diskusi ini mengundang empat narasumber yaitu Savic Ali (Direktur NU Online), Albertus Bagus Laksana SJ, Ph.D (Dosen Fakultas Teologi USD), Tabita Kartika Christiani, Ph.D (Dosen Fakultas Teologi UKDW), dan Yohanes Widodo M.Sc (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY), sedangkan moderator dalam diskusi tersebut adalah Dr. Lukas Ispandriarno, Kaprodi Magister Ilmu Komunikasi.

Diskusi ini membahas bagaimana komunitas agama di Indonesia menyikapi perubahan situasi di masa pandemi dan peran media dalam perubahan tersebut.

106577826_645495422731292_5280809745750870266_n

Yohanes Widodo di awal diskusi menjelaskan bagaimana hubungan gereja dengan media digital sebelum, kala, dan sesudah pandemi terjadi. Sebelum pandemi terjadi, internet sudah disebarluaskan dan dikenal oleh masyarakat. Gereja sudah dinilai cukup responsif dalam perkembangan internet. Meski begitu, perkembangan dunia online dalam komunitas gereja masih lambat, beberapa situs belum digarap secara serius dan tidak diupdate secara berkala. Beberapa akun resmi milik keuskupan juga masih tertinggal dalam jumlah pengikut dibandingkan dengan akun yang dikelola oleh awam. “Adanya pandemi kemudian memaksa dan mendorong gereja untuk memanfaatkan media digital dalam melaksanakan kegiatan keagamaannya. Misa-misa online kemudian menjadi hal yang lumrah,” ujar Widodo.

Sementara itu, Tabita Kartika Christiani (Dosen Fakultas Teologi UKDW), menjelaskan bagaimana pandemi mempengaruhi kegiatan keagamaan bagi umat kristen di Indonesia. Beberapa gereja ada yang sudah lebih siap untuk menjalankan ibadah online, karena memang sebelum pandemi sudah terbiasa melakukan ibadah yang disiarkan secara live. Namun beberapa gereja dan umat juga banyak yang tidak siap untuk berubah ke digital, terlebih dengan adanya kendala teknis seperti jaringan yang lambat atau perangkat yang tidak mendukung.

“Pandemi Covid-19 ini seperti akselerasi, siap tidak siap harus menggunakan media digital, dalam waktu singkat, tanpa persiapan, tanpa berpikir harus segera melakukan perubahan ini” ujar Tabita dalam diskusi.

Tabita juga menitikberatkan bahwa masuknya gereja ke ranah digital menyebabkan adanya sifat-sifat gereja yang selama ini hanya dikonsumsi secara privat menjadi konsumsi publik juga.

Savic Ali, Direktur NU Online, menambahkan tentang bagaimana pandemi ini mempengaruhi kegiatan agama dalam konteks Islam. Selain berdampak pada bagaimana ibadah dijalankan, Savic juga memberi perhatian kepada sektor pendidikan keagamaan. Adanya perbedaan generasi, antara generasi digital-native dan digital-immigrant, menimbulkan perbedaan paham mengenai pelaksanaan pendidikan agama. Sekolah-sekolah seperti madrasah dan pesantren harus tutup di kala pandemi. Penutupan ini menimbulkan beberapa keresahan, terutama dengan waktu penutupan yang tidak menentu.

“Buat generasi yang lebih muda, saya kira, pandemi dan going digital itu dalam konteks kehidupan keagamaan mungkin tidak berdampak sangat besar terhadap mereka, psikologi mereka. Tapi buat orang-orang yang lebih sepuh, jadi ganjaran yang sangat besar,” jelas Savic.

WhatsApp Image 2020-07-08 at 22.10.40

Dinamika kebersamaan dan spiritualitas juga disinggung oleh Romo Bagus. Romo Bagus menuturkan bahwa sebelum adanya pandemi pun gereja katolik juga sudah membuka diri terhadap perkembangan teknologi, namun masih ada kesulitan dengan bagaimana mengintegrasikan cara-cara hidup beragama (cara merasakan kehadiran Tuhan, cara pikir teologi) dalam media. Muncul pula kekhawatiran apabila dengan beralih ke digital, maka hal ini akan menggerogoti kegiatan liturgi/ibadah umat.

“Tetapi hal ini ternyata tidak perlu dikhawatirkan, karena umat sebenarnya bisa menjadi agensi sendiri di mana mereka tetap mempertahankan rasa khusyuk dan kebersamaan ketika mengikuti misa online, seperti mengikuti misa bersama dengan keluarga di rumah dan tetap menggunakan pakaian yang rapi selayaknya misa di gereja,” jelas Romo Bagus.

UAJY Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) adalah lembaga pendidikan tinggi swasta yang didirikan oleh kaum awam Katolik dan dikelola oleh Yayasan Slamet Rijadi - Yogyakarta, di bawah lindungan Santo Albertus Magnus. Universitas Atma Jaya Yogyakarta lahir pada tanggal 27 September 1965, dengan tujuan untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang berdimensi serta berorientasi global.
© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta Follow UAJY: Facebook Twitter Linked Youtube